Sekolah
Rabu, 7 Juni 2023 - 21:56 WIB

Pastikan Terjaminnya Hak Anak, Menteri Nadiem Ingatkan Pendidik Soal 3 Hal Ini

Newswire  /  Ivan Indrakesuma  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim (ketiga kanan) bersama Bunda PAUD se-Indonesia mendeklarasikan Gerakan Transisi PAUD ke Sekolah Dasar (SD) yang Menyenangkan di Jakarta, Rabu (7/6/2023). (ANTARA/Andi Firdaus).

Solopos.com, JAKARTA – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim, mengajak para praktisi pendidikan untuk melakukan tiga hal guna memastikan terjaminnya hak anak-anak.

Tiga hal tersebut, kata Nadiem, harus dilakukan untuk mendorong perubahan paradigma umum tentang pendidikan anak usia dini (PAUD) sehingga hak anak-anak terjamin. Ketiga hal tersebut juga berkaitan dengan Gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan.

Advertisement

Gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan itu merupakan cerminan dari semangat utama Merdeka Belajar yang dijunjung bersama. Yaitu gotong-royong dalam mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan dan berpusat pada peserta didik.

“Pertama, kita perlu menyadarkan seluruh pihak bahwa periode usia dini tidak berhenti sampai PAUD, tetapi peserta didik SD kelas awal juga masih masuk kategori usia dini,” ujarnya dalam acara Deklarasi Gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan di Jakarta, Rabu (7/6/2023).

Advertisement

“Pertama, kita perlu menyadarkan seluruh pihak bahwa periode usia dini tidak berhenti sampai PAUD, tetapi peserta didik SD kelas awal juga masih masuk kategori usia dini,” ujarnya dalam acara Deklarasi Gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan di Jakarta, Rabu (7/6/2023).

Nadiem menjelaskan proses pembelajaran di PAUD dan SD kelas awal harus serupa dan berkesinambungan. Selain itu, suasana belajar di kelas awal harus sama menyenangkannya dengan saat di PAUD, dan kurikulum selaras.

“Hal ini akan membantu peserta didik untuk beradaptasi dengan lingkungan belajar yang baru dan menumbuhkan rasa cinta terhadap proses belajar,” katanya, dilansir Antara.

Advertisement

Ia mengingatkan agar semua pihak yang terlibat dan terkait dalam dunia pendidikan untuk berhenti memaknai calistung sebagai satu-satunya bukti keberhasilan belajar di PAUD dan syarat penerimaan peserta didik di SD/MI.

Ketiga, Nadiem mengajak seluruh peserta untuk meluruskan miskonsepsi bahwa keterampilan calistung tidak boleh dibangun di PAUD tanpa kemampuan literasi dan numerasi agar peserta didik tidak hanya menghafal huruf dan angka saja, tapi juga mampu memahami dan mengolah informasi secara kritis.

“Kemampuan literasi dan numerasi harus dibangun dalam cara bertahap dan dengan pendekatan yang menyenangkan,” katanya.

Advertisement

Untuk mengubah paradigma dan miskonsepsi yang sudah lama dipercaya oleh masyarakat luas, dibutuhkan usaha keras dan keterlibatan banyak pihak. Berbagai pihak yang harus terlibat yaitu pemerintah daerah, satuan pendidikan, Bunda PAUD, serta organisasi mitra, dan yayasan penyelenggara pendidikan.

Lebih lanjut Nadiem mengatakan beberapa praktik yang telah dilakukan dari kolaborasi tersebut adalah dengan membentuk kelompok belajar. Tujuannya, membantu guru mengubah proses belajar di satuan pendidikan, melakukan pertukaran guru PAUD dan SD untuk saling berbagi pengalaman dan praktik baik, dan menyebarkan booklet advokasi untuk mengundang lebih banyak masyarakat yang mengikuti gerakan ini.

Ia berharap dengan adanya pernyataan komitmen bersama yang telah dicanangkan, akan menjadi pengikat kolaborasi semua pihak dalam mewujudkan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan.

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif